sistem pernapasan

Posted On May 19, 2009

Filed under Uncategorized
Tags:

Comments Dropped leave a response

ni hasil laporan turorial nadia…ttg sistem pernapasan..materi blok 5 sistem organ 1
lumayan bwt nambah2 bahan bwt ujian blok 5…
selalu smgt bwt ujian yg 2 minggu lagi!!!caiyo!!!

1). Penyebab bayi prematur :
a) Ibu :
– Mengalami keguguran atau pernah melahirkan bayi prematur pada riwayat kehamilan
sebelumnya.
– Adanya tekanan darah tinngi ADH kurang menyerap air dalam tubuh.
– Penyakit Jantung, Diabetes Melitus
– Cairan ketuban kurang dari normal.
– Mengkomsumsi Alkohol,merokok.

b) Bayi
– Menderita pertumbuhan lambat dan juga ada kelainan.

c) Plasenta
– Terlepas belum saatnya.
– Terletak lebih rendah dari mulut rahim / menutupi mulut rahim.

2). Struktur organ respirasi :
a).Saluran respirasi bagian atas terdiri dari:
– Hidung bulu-bulu hidunguntuk menyaring udara masuk
– Faringtempat saluran pernafasan dan pencernaan
– Laringpita suara

b).Saluran respirasi bagian bawah terdiri dari
– Trakeapipa silinder, dengan panjang 10-20 cm.
– Bronkustempat percabangan trakea kanan dan kiri
– Alveolitempat pertukaran oksigen dan karbondioksida.

 Saluran pernafasan di luar paru-paru:
– Sel epitel di luar paru-paru berupa selapis selindris bersilia.
– Di sepanjang trakea sel golbet yang menghasilkan mucus di bronkussel
epitel selapis.
– Di bronkeoulus paling kecilsel kuboid

 Respirasi menurut divisinya :
1. Divisi Respirasi
– Fungsi:
a. Sebagia pertukaran O2 dan CO2 di alveoli.
~ Salurannya : Bronkeoulus respiratori- duktus alveolaris-sakus alveolaris-alveoli.

2. Divisi Konduksi
– Fungsi:
a. Saluran keluar masuknya udara dari hidung- faring- laring- trakea-
bronkus terminalis.

3). Hubungan sianosis dengan surfaktan:
• Kehilangan O2 pada darah disebabkan surfaktannya belum
terbentuk sempurna akibatnya pengembangan paru belum sempurna.
• SurfaktanMenurunkan tegangan air di paru-paru.
• Fungsi Untuk menambah elatis dari pengembangan paru.

4). Sebab bayi prematur di isolasi di inkubator:
• Karena pada bayi yang lahir prematur sistem imunnya belum kuat
dan ketidak matangan pada sistem organ tubuh seperti : sistem pernafasan, paru
sehingga bayi tersebut di tempatkan di inkubator untuk menambah O2, suhu dan
kelembaban sesuai dengan keadaan normal.
• Selain Inkubator ada prose pemanasan menggunakan Lampu.
Sebelum di panaskan mulutnya harus di sedot untuk mengeluarkan cairan
yang terdapat pada mulutnya.

5). Sistem pengontrolan respirasi oleh tubuh:
• Pernafasan Dorsal Mengatur irama pernafasan.
• Pernafasan Sentral Mengatur Inspirasi dan Ekspirasi.
• Pernafasan Toksik Mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan.

– Di pengaruhi oleh tekanan O2 dan CO2
( Apabila O2 meningkat akan berdilatasi, sedangakan O2 menurun akan mengalami vasokontriksi. Apabila CO2 meningkat bronkodiltasi, sedangkan CO2 menurun maka bronkeolus berkontraksi.
– Di pengaruhi oleh kendali kimia terbagi 2:
a.Kemo reseptor sentral Pengontrolan PH
b.Kemo reseptor perifer Pengontrolan PH

6) Penyakit yang di timbulkan oleh gangguan pernafasan:
1. Sianosis Karena Hb tidak berikatan dengan O2
2. Pneumonia Infeksi dari alveoli, membran paru mengalami peradangan dan berlobang- lobang sehingga alveoli terinfeksi oleh virus, jamur dan bakteri
3. Asma
4. Tuberkulosis
5. ISPA
6. Hipoksia
7. Hiperkapnia

7) Mekanisme pernafasan di bedakan atas 2 :
1. Pernafasan dada
 Fase inpirassi: Berkontraksinya otot antar tulang usukrongga dada membesartekanan rongga dada mengecil dari tekanan di luar sehingga udara luar masuk.
 Fase ekspirasi : Kembalinya otot antar tulang rusukyang diikuti turunnya tulang rusukrongga dada menjadi keciltekanan rongga dada menjadi lebih besar dari pada tekanan luar sehingga udara keluar.

2. Pernafasan Perut
 Fase Inspirasi : Otot diafragama berkontraksidiafragma
mendatarrongga dada membesartekanan menjadi keciludara masuk
 Fase Ekspirasi : Otot diafragma kembali ke awamendatalrongga dada
mengeciltekanan menjadi lebih besarudara keluar.

– Volume Paru terbagi 3 :
a. Volume tidal500ML
b. Volume cadangan3000ML
c. Volume residu1200ML

– Kapasitas Paru terbagi 4:
1. InspirasiVol.tidal+Vol. cadangan = 3500ML
2. Residu Vol.cadangan ekspirasi+Vol.residu=2300ML
3. VitalVol.cdgn inspirasi+ekspirasi+tidal = 4600 ML
4. Paru total 5800 ML

8) Fungsi respirasi :

– Menyediakan permukaan untuk pertukaran gas antara udara dan system aliran
darah.
– Sebagai jalur keluar masuknya udara dari luar ke paru – paru.
– Pertukaran O2 dan CO2
– Keseimbangan Asam Basa
– Keseimbangan suhu tubuh.

9) Proses difusi dan transportasi O2 dan CO2
– Darah dari bilik kanan masuk ke paru melalui arteri pulmonalis, darah tersebut akan mengikat O2 di alveoulus oleh Hb lalu di alirkan darah yang kaya O2 tersebut ke vena pulmonalis ke jantung, kemudian diedarkan lewat aorta ke seluruh tubuh, di seluruh tubuh O2 akan di ambil dan di tukar dengan Co2 dan kenbali ke jantung lagil

10) Fungsi infus pada bayi prematur:
– Untuk pemberian makanan kanrna kandungan gizinya kurang
– Jalur makanannya tersumbat sehinnga tidak bisa di beri secara langsung
makannya dipasang infus.

6. PENJABARAN TUJUAN PEMBELAJARAN

1. ORGAN PENYUSUN SISTEM PERNAPASAN.
Secara sistematis sistem pernapasan dibagi menjadi saluran pernapasan atas dan saluran pernapasan bawah. Organ saluran pernapasan atas terletak di luar toraks, atau rongga dada, sementara saluran pernapasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks .
Berdasarkan Anatomi dan Histologi Sistem Respirasi di bagi atas:
1. Bagian Konduksi terdiri dari :
– Hidung

– Di lapisi oleh 2 mukosa yaitu Mukosa Respiratorius ( epitel bersilia ), dan Mukosa Olfaktoris ( ujung saraf bebas ).
– Di kelilingi oleh Sinus Paranalis ( yang di lapisi oleh mucus respiratorius ). Contoh sinusnya yaitu:
1. Sinus Maxilaris
2. Sinus Prontalis
3. Sinus Ethmoldalis
4. Sinus Sphenoldalis

– Perdarahaan Hidung  di darahi oleh arteri:
1. Arteri Sphenopalatina
2. Arteri Maxilaris
3. Cabang Arteri Facialis

– Persarafan Hidung  Olfaktorius ( aferen viceral ), Maxillaris ( serabut sensoris ).

– Fungsi Hidung :
1. Jalan keluar masuknya udara
2. Penyaring
3. Melembabkan dan menghangatkan udara
Sel Goblet dan kelenjar serous berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara.
4. Reseptor pembau

– Farink

– Rongga yang berbentuk pipih dan di leawti oleh udara dan makanan, terdiri dari otot skeletal untuk penelanan.
– Terdapat glottis yang berfungsi menutup saluran napas apabila ada makanan yang akan melewati farink.
– Terdiri dari :
1. Nasofaring ( 2 tuba estachii, adenoid ) Jalan napas.
2. Orofaring ( uvula )  Jalan makanan dan napas.
3. Laringofaring  Perbatasan dengan laring.

– Terdapat lapisan-lapisan yaitu :
1. Epitel Mukosa Respiratoria  epitel berderet slindris dengan 2 tipe :
a. Sel Goblet : sel yang akan mensekresi mucus yang akan menangkap bahan- bahan kotoran dari luar.
b. Sel bersilia : silia akan bergerak untuk mendorong mucus keluar.
2. Pembuluh darah : menghangatkan
3. Lamina propia : terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar dan
banyak sabut-sabut elastis.
4. Tunika Sub Mukosa : mengandung jaringan ikat kendor yang mempunyai banyak
jaringan limfoid.
– Jaringan limfoid yaitu :
1. Tonsillae Pharygica : letaknya di belakang nasopharing
2. Tonsillae Palatina : terletak di perbatasan rongga mulut dan oroparing kanan.
3. Tonsillae Lingialis : terletak pada akar lidah
4. Tonsillae Tubaria : terletak di sekitar muara Tuba Eustachi

– Larink

– Tabung pendek berbentuk seperti kotak tringular dan di topang oleh sembilan kartilago: tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan:

1. Kartilago tidak berpasangan
a. Kartilago Tiroid : terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormon yang disekresi saat pubertas.
b. Kartilago Krikoid : cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.
c. Epiglotis : Katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid, saat menelan, epiglotis secara otomatis menutup mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan.

2. Kartilago berpasangan
a. Kartilago Aritenoid : melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan
dari epitelium skuamosa bertingkat.
b. Kartilago Korinulata : melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid.
c. Kartilago Kuneiform : berupa batang-batang kecil yang membantu menopang
jaringn lunak.
– Memiliki 2 pasang lipatan mukosa yang membagi laring:
1. Lipatan ventrikular : di sebut juga pita suara palsu yang dapat merapat untuk menahan napas sewaktu menggendan.
2. Lipatan Vokalaris : di sebut pita suara sejati yang membentuk suara., terdapat dua buah otot , oleh gerakkan otot ini maka pita suara dapat bergetar dengan demikian pita suara dapat melebar dan mengecil, sehingga terbentuklah suara.

– Trakea

– Terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan dan kiri yang masing-masing masuk ke paru kanan dan kiri.
– Panjangnya 9-11 cm dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang di lapisi oleh otot polos yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan yang disebut karina.
– Terdapat epitel yang terdiri dari :
1. Seel silindris bersilia
2. Sel goblet
3. Sel slindris dengan striated border ( sel penyikat )
4. Sel lymfosit, makrofag

– Bronkus
– Terbagi 2 : kanan dan kiri. Kanan lebih pendek dan lebih lebar, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Kiri lebih panjang dan ramping dari yang kanan, terdi dari 9- 12 cicncin mempunyai 2 cabang.Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkiolus lobaris dan bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menerus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil menjadi bronkus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidakmengandung alveoli.
– Bronkus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu:
1. Bronkiolus respiratoris
2. Duktus alveolaris
3. Sakus alveolaris terminalis

Gambar. Sistem Pernapasan

– Alveoli
– Suatu sel pipih alveolar tipe 1 yang menyusun dinding alveoli adalah selapis epitel gepeng. Dalam ruang d antara sebaran alveoli terdapat jaringan ikat elastis yang penting untuk ekhalasi.
– Alveolus di lapisi oleh zat lipoprotein yang di namakan surfaktan.

Gambar. Struktur Alveouli

Lanjutan Pernapasan

– Paru-Paru

– Terletak di rongga dada tepat di sekat diafragma.
– Paru-paru terdiri dari 2 bagian: Kanan memiliki 3 lobus dan Kiri memiliki 2 lobus.
– Paru di bungkus oleh dua lapis seraput paru-paru yang di sebut pleura
– Pleura di bagi menjadi dua, yaitu :
1. Pleura visceral, yaitu : selaput paru yang langsung membungkus paru.
2. Pleura parietal, yaitu : sselaput yang melapisi rongga dada sebelah luar

Gambar. Struktur Paru

2. MEKANISME SISTEM PERNAPASAN
3.
– Pernapasan Perut
– Merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
– Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni sebagai
1. Inspirasi
– Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.
2. Ekspirasi
– Merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.

– Pernapasan Dada
– Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Inspirasi
– Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
2. Ekspirasi
– Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

– Mekanisme secara umum:
1. Inspirasi
• Otot-otot interkostal berkontraksi akibatnya tulang rusuk terangkat.
• Kontraksi otot interkostal diikuti oleh kontraksi otot diafragma.
• Akibat kontraksi kedua otot ini, rongga dada menjadi membesar.
• Akibatnya udara masuk ke dalam paru-paru.
• Rongga dada yang bertambah besar menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi kecil.
2. Ekspirasi
• Otot-otot interkostal berelaksasi akibatnya tulang rusuk turun.
• Relaksasi otot interkostal diikuti oleh berelaksasinya otot diafragma.
• Akibat relaksasi kedua otot ini, rongga dada menjadi menjadi mengecil.
• Akibatnya udara keluar dari dalam paru-paru ke lingkungan.
• Rongga dada yang mengecil menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi besar

3. VOLUME DAN KAPASITAS PARU

– Volume
1. Volume dan napas (tidal) adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap kali bernapas normal, besarnya kira-kira 500 ml pada rata-rata orang dewasa muda.
2. Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah dan di atas volume alur napas normal dan biasanya mencapai 3000 ml.
3. Volume cadangan ekspirasi adalah jumlah udara ekstra yang dapat diekspirasi oleh ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi alun napas normal, jumlah normalnya adalah sekitar 1100 ml.
4.. Volume residu yaitu volume udara yang masih tetap berada pada atau dalam paru setelah ekspirasi paling kuat. Volume ini besarnya kira-kira 1200 ml.

– Kapasitas Paru

1. Kapasitas inspirasi sama dengan volume alun napas ditambah volume cadangan inspirasi. Ini adalah jumlah udara kira-kira 3500 ml yang dapat dihirup oleh seseorang, dimulai pada tingkatan ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum.
2. Kapasitas residu fungsional sama dengan volume cadangan ekspirasi ditambah volume residu. Ini adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal kira-kira 2300 ml.
3. Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi ditambah volume alun napas dan volume cadangan ekspirasi. Ini adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya kira-kira 4600 ml.
4. Kapasitas paru total adalah volume maksimum dimana paru dapat dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa kira-kira 5800 ml, jumlah ini sama dengan kapasitas vital ditambah volume residu.

4. PROSES DIFUSI DAN TRANSPORTASI O2 DAN CO2

– Difusi O2 dan CO2

1. Difusi O2 dari alveoli ke darah kapiler paru.
– Difusi terjadi karna PO2 di alveoulus lebih tinggi dari pada PO2 darah dalam kapiler paru. PO2 alveolus 104 mmHg dan PO@2 kapiler paru 40 mmHg

2. Difusi O2 dari kapiler ke sel jaringan
– PO2 intrasel berkisar 5-40 mmHg, dengan rata-rata = 23 mmHg. Jadi tetap lebih rendah dari kapiler jaringan, sehingga O2 dapat berdifusi

3. Difusi CO2 dari sel ke kapiler jaringan
– Ketika O2, dipakai sel , PCO2 intrasel naik ( 46 mmHg ), dan vena kapiler jaringan ( 45 mmHg ) CO2 berdifusi

4. Difusi CO2 dari kapiler paru ke dalam alveoli
– PCO2 kapiler paru pada ujung arteri 45 mmHg, PCO2 alveolus 40mmHg CO2 berdifusi dari kapiler paru ke alveoulus kemudian di keluarkan melalui ekspirasi.

5. Difusi O2 dari kapiler cairan intertisial
– PO2 dalam kapiler perifer = 95 mmHg. PO2 cairan interstitial = 40 mmHg O2 berdifusi dari kapiler ke cairan interstitial secara cepat. Sehingga PO2 kapiler pun turun hampir sama dengan 40 mmHg.
– Difusi CO2 20 x lebih cepat dari difusi O2. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ekspirasi CO2 sehingga [ CO2 ] tidak menumpuk di dalam jaringan

– Transport O2 dan CO2

1. Transport O2 dalam darah arteri
– 98 % darah, paru masuk ke atrium kiri melalui kapiler alveolus dan teroksigenasi sampai PO2 =
40 mmHg
– 2 % darah, paru yang lain melewati aorta melalui sirkulasi bronkial , karena tidak teroksigenasi
PO2 = 40 mmHg
– Kedua darah ini bercampur dalam vena paru  campuran darah vena. PO2 = 95 mmHg 
masuk jantung kiri  pompa melalui aorta  arteri  kapiler perifer.

– Bentuk pengangkutan O2 :

97 % O2 di angkut dari paru ke jaringan dalam campuran kimiawi dengan Hb dalm sel darah merah. Ada 5 ml O2 yang di angkut dalam bentuk terlarut dalam campuran plasma dan sel darah. 0,17 ml O2 secara normal diangkut dalam keadaan terlarut ke jaringan oleh 100 ml darah.

– Bentuk pengangkutan CO2 :

– Dalam bentuk terlarut ( 7 % ), 0,3 ml CO2 dalam bentuk terlarut di angkut oleh 100 ml aliran
darah .

– Dalam bentuk HCO3 ( 70 % ). CO2 bereaksi dengan air membentuk asam karbonat dengan
bantuan karbonanhidrase di bentuk di sel darah merah, kemudian H2CO3 di uraikan menjadi
H2O dan CO2, CO2 di keluarkan.

– Dalam bentuk senyawa karbomino hemaglobin ( CO2Hgb ) sekitar 80%. 1,5 ml CO2 dalam
100 ml darah

 Efek Haldane :

– Bila O2 berikatan dengan Hb, CO2 di keluarkan dari darah karena HbO2 akan tinggi keasaman
Hb  CO2 di darah pindah ke alveoli dengan cara:
– memindahkan CO2 dalam bentuk karbamino dan darah.
– Hb melepaskan sejumlah H plus  berikatan dengan CO2  H2CO3  H2O + CO2 di
keluarkan.

 Efek Haldane melancarkan transportasi CO2

 Efek Bohr melancarkan transportasi O2

5. SISTEM PENGONTROLAN RESPIRASI

– Pusat respirasi di otak di sistim saraf otonom pada bagian batang otak.

a. Medula rhythmicy area
– area pengatur inspirasi dan ekspirasi
– mengatur ritme dasar respirasi
b. Pneumotaxic area
– membantu koordinasi transisi anata inspirasi dan ekspirasi
– mengirim impuls inhinisi ke area inspirasi dan mencegah paru-paru mengembang
c. Apneustic area
– membantu koordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi
– mengirim impul ekshibisi ke area inspirasi

– Kendali kimia terbagi atas:

a. Kemoreseptor sentral :
– Neuron yang terletak di permukaan ventral lateral medulla. Peningkatan kadar karbndioksida
dalam darah arteri dan vairan serebrospinalis merangsang peningkatan frekuensi dan kedalaman
respirasi.

b. Kemoreseptor perifer

– Terletak di badan aorta dan carotoid pada sistem arteri. Merespon terhadap perubahan
konsentrasi ion oksigen, karbondioksida, dan ion hydrogen.

– Contoh :
Kalau kita melakukan olahraga maka akan terjadi proses pembakaran di dalam tubuh, hal ini memerlukan oksigen yang sangat besar , maka efek dari kompensasi tubuh adalah dengan jalan respirasi yang cepat dan dalam untuk menyediakan bahan bakar teresebut, sewktu kita mulai istiharat maka tubuh akan kembali normal karena oksigen yang di butuhkan standar karena pembakaran yang terjadi tidak terlalu banyak.

6. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPIRASI
1. Pengaturan pernapasan volunter
2. Efek reseptor iritan pada jalan napas  rangsangan dapat di atur  bersin, batuk, kontraksi bronkus emfilema, asma.
3. Fungsi reseptor  paru  rangsangan menyebabkan sesak napas  ujung saraf saraf sensori yang berjejer.
4. Anestesia : Henti napas.
5. Umur : Semakin bertambah umur seseorang, irama pernapasan semakin lambat.
Pada usia balita dan remaja merupakan masa pertumbuhan fisik yang sangat
membutuhkan energi yang berarti laju metabolisme dalam tubuh juga akan lebih cepat,
sehingga mebutuhkan banyak oksigen dan juga banyak mengeluarkan karbondioksida.
6. Jenis kelamin
Kegiatan atau aktivitas tubuh yang bekerja dan semakin berat kerja organ tersebut,
semakin tinggi kebutuhan energi yang di perlukan , sehingga laju metabolisme dan irama
pernapasan semakin cepat.
7. Ketinggian : Makin tinggi daratan makin rendah O2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat di hirup.
8. Polusi Udara

7. GANGGUAN PADA SISTEM RESPIRASI
a. Asfiksi kelainan dalam pengangkutan O2 ke jaringan / gangguan penggunaan O2 oleh jaringan.

b. Tuberkulosis disebabkan mycobactenum tubercolosis, ciri-cirinya: terbentuk bintik-bintik kecil pada dinding alveolus.

c. Pneumonia radang paru karena diplococus pnemoniae, radang pada dinding alveolus

d. Atelektasis Alveoli mengempes karena terjadi pada tempat-tempat yang terakolisor pada paru, penyebabnya karena obstruksi total saluran napas dan berkurangnua surfaktan pada cairan yang melapisi alveoli.

e. Asma  di tandai dengan kontraksi spsifik oto polos bronkiolus yang menyumbat bronkiulus secara parsial dan menyebabkan sukabkesukaran bernapas yang nebat.
Asma terbagi 2:

a. Asma Kardial berhubungan dengan kelainan jantung.

b. Asma Bronkial penyakit saluran pernapasan terbagi 2:

– Ektrinsik : Pengidap hipersensitif dan hiperaktif terhadap macam-macam rangsangan luar, seperti: debu, cuaca, obat nyamuk. ( pada anak- anak, dapat sembuh bila sudah dewasa )

– Intristik : Muncul bila penderita mendapat gangguan psikis, ex: Olahraga berat, stres, perubahan cuaca yang dratis.

– Campuran: gabungan komponen instrinsik dan ekstrinsik , biasanya yang ekstrinsik akan berlanjut ke ekstrinsik.

f. Asidosis  kenaikan kadar asam karbonat dan asam birkarbonat dalam darah sehingga pernapasan tidak ada.

g. Rinitos  radang rongga hidung akibat infeksi virus, misalnya virus influenza

h. Faringitis  radang pada faring akibat infeksi oleh bakteri streptococus.

i. Laringitis  radang pada laring serak atau kehilangan suara.

 Gangguan pernapasan pada pendaki gunung :
Pendaki gunung sering mengalami gangguan pernapasan berupa kurangnya pasokan O2 ke jaringan karena [ O2 ] di pegunungan semakin berkurang. Kekurangan O2 ini biasanya si pendaki gunung selalu beristirahat sebelum sampai ke puncak untuk menyesuaikan jaringan tubuh dengan kondisi lingkungan, sehingga untuk mencapai puncak memerlukan waktu berhari-hari.

 Tenggelam
Pada orang yang mengalami tenggelam akan mernyebakan saluran napasnya tersumbat, menyebabkan kematian dan pada keadaan ringan akan menyebabkan aktivitas napas terhenti.

8. PENGARUH SISTEM RESPIRASI TERHADAP KESEIMBSNGAN PH

– Pernapasan mempengaruhi PH cairan tubuh karena pernapasan mengatur CO2 dalam cairan tubuh , bahwa CO2 bereaksi dengan air membentuk asam karbonat ( H2CO3 ), yang akan terionisasi menjadi ion H + dan ion HCO3-

– Makin banyak ion hidrogen terdapat dalam cairan tubuh, akan makin rendah pH, dan makin sedikit ion hidrogen akan makin tinggi pH

– Sistem pernapsan dapat menjadi sebab ketidakseimbangan pH sebaliknya dapat pula memperbaiki ketidakseimbangan pH yang di akibatkan oleh:

– Alkalosis respiratorik : terjadi jika frekuensi atau efisiensi pernapasan menurun sehingga terjadi penumpukan CO2 dalam cairan tubuh.

– Asidosis respiratorik : terjadi jika frekuensi pernapasan meningkat, dan CO2 dihembuskan dengan cepat.

4. SISTEMATIKA

5. LEARNING OBJECTIVE
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan:
1. Organ-organ penyusun sistem pernafasan secara makroskopis dan mi
mikroskopis.
2. Mekanisme sistem pernafasan Inspirasi dan ekspirasi
3. Volume dan kapasitas paru-paru
4. Sistem pengontrolan respirasi
5. Gangguan pada sistem respirasi
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi
7. Proses difusi dan transportasi O2 dan CO2 di darah, jaringan,alveoli
8. Pengaruh sistem respirasi terhadap keseimbangan PH

7. KESIMPULAN
Proses pernapasan lebih dari sekadar aksi mekanik sederhana dari bernapas. Inhalasi memberi tubuh oksigen yang diperlukan untuk pembentukan ATP dalam proses pernapasan sel. Ekshalasi membuang CO2 yang merupakan hasil pernapasan sel. Bernapas juga mengatur kadar CO2 di dalam tubuh, dan hal ini mempunyai kontribusi untuk mempertahankan keseimbangan asam basa dari cairan tubuh.

Sistem pernapasan terdiri atas sejumlah jalan udara dan paru-paru, yaitu organ pernapasan fungsional. Saluran pernapasan atas terdiri atas : hidung, faring, dan laring. Saluran pernapasan bawah terdiri atas trakhea, bronkhial dan alveoli, dan paru-paru.
Sistem pernapasan membantu mempertahankan homeostasis dengan menjaga agar kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah relatif konstan, meskipun terjadi perubahan kondisi dalam tubuh..

Ventilasi didefinisikan sebagai perpindahan udara ke dalam dan ke luar paru-paru. Ventilasi ini mencakup inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah perpindahan ke dalam paru-paru akibat kontraksi otot-otot pernapasan dan perubahan dalam tekanan toraks. Ekspirasi adalah perpindahan udara ke luar paru-paru dan merupakan akibat relaksasi otot-otot pernapasan serta perubahan dalam tekanan toraks.Volume dan kapasitas pulmonal merupakan ukuran klinis penting dalam mengevaluasi abnormalitas pernapasan.

Pernapasan eksternal adalah pertukaran gas antara udara dalam alveoli dan darah dalam kapiler pulmonal. Oksigen berdifusi dari alveoli ke kapiler pulmonal dan karbon dioksida berdifusi dari darah dalam kapiler pulmonal ke dalam alveoli. Pernapasan dikontrol oleh faktor instrinsik dan ekstrinsik. Kontrol setempat dari pertukaran gas yang adekuat mencakup efek dari kadar karbon dioksida terhadap bronkhiolus dan kadar oksigen terhadap arteriole pulmonal. Pusat pernapasan otak terletak di medulla dan pons. Area yang sensitif terhadap zat kimia dari medulla sangat sensitif terhadap kadar PCO2 plasma. Mekanisme pengaktifannya melalui ion-ion H+

DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A.2007.Kamus Kedokteran Dorland.Jakarta : EGC
Gaytton, Arthur C.2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC
Price, Sylvia Andreson. 2005.Patofisiologi :Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :EGC
Shewood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia : Dari Sel Ke Sistem. Jakarta : EGC
Janquiera, L.Carlos.1997. Histologi Dasar. Jakarta : EGC
Kuliah Pakar Minggu 2 mengenai respirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s